Di Indonesia sekolah dikelompokkan berdasarkan pada jenjang-jenjang tertentu. Mulai dari PAUS, TK, SD, SMP, dan SMA. Penyebutan jenjang tersebut secara umum memakai istilah TK, SD, SMP, SMA, namun ternyata ada sebutan lain seperti RA, MI, MTs, dan MA. Semua kategori tersebut sebenarnya memiliki kedudukan jenjang yang sama, akan tetapi ada perbedannya yakni pada hal sebutan.
RA sama dengan TK, jika RA kepanjangan dari Raudhatul Athfal yaitu sekolah Tanam Kanak-Kanak dengan basic agama islam. MI sama dengan SD, namun MI (Madrasah Ibtidaiyah) lebih agamis, semua siswa beragam islam. Begitupun MTs (Madrasah Tsanawiyah) juga sama seperti SMP namun basicnya agama islam. Dan yang terakhir adalah MA (Madrasah Aliyah) sama dengan SMA, atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang fokusnya pada kejuruan tertentu. Antara TK, SD, SMP, SMA dengan RA, MI, MTs, MA bedanya juga terdapat pada Kementrian yang menaunginya. Sekolah TK sampai dengan SMA dinaungi oleh Kemendikbud, sedangkan RA sampai MA dinaungi oleh Kementrian Agama Republik Indonesia.
Nah, kemudian setelah membahas perbedaan RA sampai MA, selanjutnya secara mendalam akan kita bahas jenjang SMP atau MTs. Dari hal karakteristik siswa sekolah Menengah Pertama (SMP)/ (MTs) Madrasah Tsanawiyah perlu dipahami oleh pendidik. Seorang pendidik utamanya pada jenjang SMP/MTs ini adalah memperhatikan karakter siswa. Siswa jenjang SMP/MTs masuk dalam kategori masa usia remaja. Masa remaja adalah masa yang menginjak usia antara 13-21 tahun. Pada fase ini mereka melewati bermacam kesulitan dan hambatan, hal tersebut bukan hanya dialami oleh remaja tapi juga oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Sistem emosinya masih sangat labil karena berada pada masa peralihan dari bawah umur menuju dunia dewasa. (Endang Poerwanti & Nur Widodo, 2000:45).
Di lingkungan sekolah remaja ini masuk dalam jenjang SMP/MTs. Guru memberikan bahan ajar yang sesuai dengan usianya, perkembangan cara berpikirnya, dan emosionalnya. Seperti dengan memberikan LKS K13 Jenjang SMP/MTs ini, tujuannya ialah memberikan ilmu pengetahuan yang baik. LKS K13 Jenjang SMP/MTs memuat berbagai macam mata pelajaran yang kompleks, memadai dan sesuai kebutuhan siswa. Pada LKS K13 Jenjang SMP/MTs dilengkapi dengan sistem LKS yang membuat siswa dituntut untuk bersikap lebih aktif di kelas. Ketika siswa lebih aktif di kelas tugas guru adalah mengarahkan. Hal ini sejalan dengan definisi remaja yang telah disampaikan oleh pakar, bahwa mereka adalah subyek yang menginjak pada usia dewasa. Usia ini adalah usia yang tidak mau jika dituntun terus, dijelaskan terus, atau hanya sebagai pendengar saja, akan tetapi mereka lebih aktif menyampaikan atau bertanya.
LKS K13 Jenjang SMP/MTs merupakan media yang sangat tepat untuk menjadi pendamping belajar siswa SMP/MTs. Dengan diaplikasikannya LKS K13 Jenjang SMP/MTs di kelas merupakan salah satu cara agar siswa bersikap aktif ketika proses kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung. Sebuah terobosan yang cocok, karena siswa SMP/MTs sudah tidak relevan jika belajar secara pasif menggunakan metode ceramah.
Beberapa alasan menggunakan LKS K13 Jenjang SMP/MTs :
- Proses Belajar Mengajar (KBM) berlangsung aktif.
- Siswa tidak mudah bosan karena ikut terlibat dalam proses belajar.
- Tidak menggunakan metode ceramah yang membosankan.
- Siswa menjadi lebih kreatif dan berpikir kritis.
- Siswa berlatih menemukan problem solving dengan sendiri maupun diskusi.



